Kun Fayakun

©
Photo: 
Courtesy of Gelar A. Soemantri -- Tampilan presentasi karya di pameran FOLLOWING (Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, 2017).

Kun Fayakun

Tahun Karya: 
Jenis: 
Medium: 
video
animasi digital
monitor TV
Dimensi: 
Bervariasi

Memori masa kecil saat menghitamkan gigi atau menambah kumis pada foto-foto orang terkenal yang ada di kalender dipraktikkan ulang dalam karya ini dengan menggunakan aplikasi ponsel pintar yang bisa menambahkan aset animasi ke foto. Foto yang dipakai oleh seniman dalam karya ini adalah citra-citra digital yang tersebar di internet yang merupakan foto dari karya-karya lukis yang sebagiannya menjadi koleksi lukisan Galeri Nasional dan koleksi Istana Negara. Karya-karya tersebut juga pernah dipamerkan di galeri yang sama tempat karya Kun Faya Kun ini pertama kali dipamerkan.

Dalam pembuatannya, foto-foto lukisan ini diakses seniman dari internet. Pilihan ini juga bagian dari maksud karya, untuk mempertanyakan kembali esensi sebuah karya seni tatkala berada di internet yang bisa diakses publik: ia menjadi milik siapa? Sejauh apa batas “kesakralan” karya-karya yang dikoleksi institusi negara ini? “Kesakralan” yang bisa membuat penikmat karya merasa berjarak dengan karya itu sendiri.

Dengan mengumpulkan foto-foto lukisan karya maestro Indonesia, seperti S. Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, Dullah, Kartono Yudhokusumo, dan lain-lain, itu merupakan wujud lain dari pekerjaan dasar jurnalistik yang dimiliki oleh seniman, sebagai sebuah cara untuk menelusuri, mengenal, dan mengapresiasi seni lukis Indonesia. Bentuk apresiasi ini adalah dengan membuat imajinasi baru, dengan menambahkan aset animasi baru pada foto lukisan. Seniman pun menandatangani karya yang baru ini, dengan membubuhkan SMTRGLR X beserta nama pelukis asli dari lukisan-lukisan tersebut, sebagai pertanggungjawaban kepada penikmat karya bahwa karya video ini dibuat oleh seniman yang berbeda, yakni dalam bentuk digital imaging.

Dalam pengaturan karya, seniman selalu menempatkan lukisan dengan objek perempuan di atas lukisan dengan objek laki-laki, sebagai sikap dalam melihat susunan posisi perempuan dan laki-laki di masyarakat, serta bagaimana laki-laki melihat perempuan, sebab pelukis dan seniman sendiri adalah laki-laki.

Di sisi lain, pilihan menggunakan aplikasi di ponsel pintar adalah sebuah tawaran kepada praktik seni media, bahwa aplikasi bisa digunakan untuk membuat visual sebagai strategi artistik. Dengan masif dan semakin mudahnya akses untuk memiliki ponsel pintar dan aplikasi-aplikasi di dalamnya, ia bisa menjadi siasat baru sehingga seni media tidak melulu membutuhkan perangkat teknologi tinggi dan berharga mahal.

Sumber: 
-