Artikel

Kategori:
Eksplorasi dan riset dilakukan pada hal-hal yang terdekat. Karena konsep The Wayang Bocor adalah mengeksplorasi apa yang paling mudah, isu apa yang sedang terjadi di dekat kita, informasi apa yang menarik untuk diangkat.
Penulis:
Kategori:
Pekan Seni Media 2017 diharapkan menjadi ruang belajar bagi seluruh unsur masyarakat. Sebagai bentuk perwujudan cita-cita tersebut maka dibuatlah kegiatan Tur Edukasi.
Penulis:
Kategori:
Wayang Bocor adalah sebuah bentuk pertunjukan yang diprakasai oleh seniman terkemuka Indonesia Eko Nugroho, hadir dengan lakon Semelah (God Bliss), dengan penulis dan sutradara lakon Gunawan Maryanto. Dalam Pekan Seni Media 2017, Wayang Bocor ditampilkan dua kali, tanggal 11 dan 12 Juli 2017.
Kategori:
Pada hari kedua pelaksanaanya, yaitu pada Selasa, 11 Juli 2017 di Taman Budaya Riau, simposium ini kembali dihadiri oleh sekitar 60 orang peserta dan dimulai sejak pagi hari, pukul 10:20 WIB.
Penulis:
Kategori:
Istilah post-digital bisa diartikan sebagai kekecawaan terhadap dunia digital saat ini. Ketika perkembangan teknologi, khususnya teknologi elektronik dan digital sudah mencapai suatu keniscayaan, maka kekaguman terhadap teknologi itu sendiri perlahan pudar.
Penulis:
Kategori:
Pembahasan mengenai ini tak pelak memberi gambaran pada kita bahwa seni media tak hanya berkutat pada persoalan-persoalan nilai estetika saja. Ia kemudian dibebankan semacam tanggung jawab sebagai sarana meningkatkan inisiatif warga untuk mengkritisi informasi dengan teknologi media.
Penulis:
Kategori:
Hafiz Rancajale selaku kurator memberikan ulasan singkat tentang proses acara Pekan Seni Media 2017, dimulai dari wacana pembentukkan acara yang juga mempertimbangkan lokasi Riau yang memiliki sejumlah seniman hebat yang sudah diakui di mancanegara.
Penulis:
Kategori:
“Pekanbaru kami pilih karena anak mudanya aktif dan progresif!” ungkap Hafiz Rancajale selaku kurator Pekan Seni Media 2017 “Arus Balik Dimensi Teknologi dalam Seni” menanggapi pertanyaan salah seorang wartawan pada konferensi pers Pekan Seni Media 2017.
Penulis:
Kategori:
Kita masih hidup di depan layar, kita lihat layar monitor di mana pun, handphone, LED di pinggir jalan, TV, semua masih pakai itu. Semuanya masih based on pixel. Jadi, belum ada perkembangan apa pun. Dan gue merasa bahwa selama ini gue nyaman berkarya menggunakan pixel art.
Penulis:
Kategori:
Sekarang itu, kalau kita buat suatu pameran besar, kita tidak lebih seperti merangkaikan manusia purba. Kita punya pengalaman merekonstruksi manusia purba. Itu, kan, temuan yang nggak pernah lengkap.
Penulis:
Kategori:
Ilustrasi atau gambar-gambar itu berkembang sejak ada kebiasaan baru. Sejak membuat mural, gue mulai melihat hal yang lain. Tapi, mungkin perbeda jelasnya ada saat pengerjaannya, karena dulu punya jarak dengan orang, dan sekarang harus menggambar di luar, bertemu dengan orang baru, lingkungan baru.
Penulis:
Kategori:
Aku rasa, jadi kurator di Indonesia itu harus punya kemampuan lain, bukan cuma jadi kurator saja. Misalnya, kemampuan sosial berhubungan dengan kolektor seni. Kurator harus bisa mendidik kolektor seni.
Penulis:
Kategori:
Video mapping itu mediumnya bebas, apa pun bisa jadi medium buat video, mau bentuknya apa saja, bisa. Gue tertarik dengan media art dari situ.
Penulis:
Kategori:
Kalau kita bicara lagi soal perkembangan seni media, soal perkembangannya dari dulu sampai sekarang, atau kita anggap waktunya dimulai sejak ada OK. Video, sebetulnya mereka itu juga sudah melakukan hal yang sama. Cuma bedanya, kita [yang di kota-kota besar di Jawa] cukup beruntung karena kita punya
Penulis:
Kategori:
Apa yang gue percaya dan yang selalu gue bagi ke masyarakat, jangan cuma melihat media dari satu perspektif saja.
Penulis:
Kategori:
Komik kita jauh dari sastra, padahal kesempatan utama untuk bikin komik adalah dari sastra.
Penulis:
Kategori:
Yang perlu ditemukan seniman itu adalah metodenya, gaya seniman itu bukan gaya visual. Metode bisa ditemukan dari karya-karya sebelumnya, menemukan dari karya apa yang paling disuka.
Penulis:
Kategori:
Kelahiran dan perkembangan seni video di Indonesia tentu saja tak serta-merta berangkat dari semangat yang sama dengan yang mendasari Paik dalam berkarya di era 1960-1970-an. Situasi di Amerika Serikat kala itu sangat berbeda dengan Indonesia, terutama perkembangan teknologinya.
Courtesy of OK. Video ORDE BARU – Indonesia Media Arts Festival
Penulis:
Kategori:
Perkembangan teknologi media tentu tak lepas dari beberapa pihak yang berkepentingan di dalamnya, seperti pemerintah, korporasi, dan masyarakat itu sendiri. Pemerintah Orde Baru sadar betul akan potensi ini di awal masa 1980-an, ketika kehadiran video diaggap telah menimbulkan suatu kekhawatiran dal
Penulis:
Kategori:
Kalapa Mati, sejauh pantauan saya mulai aktif membuat meme sejak lima atau tujuh tahun yang lalu. Meme-meme lokal ini menimbulkan fenomena memindahkan ekspresi-ekspresi verbal ‘kedaerahan’ menjadi media gambar digital dengan alat penyebarnya; media sosial. Meme-meme banyak memanfaatkan ungkapan-ungk
Left Side Right Side (1972) by Joan Jonas. Film stills. © Joan Jonas
Kategori:
Pameran [in]corporeal menghadirkan sejumlah karya-karya video yang secara serentak berurusan dengan tubuh, teknologi, dan seni sebagai satu jalinan persoalan yang diikat secara konseptual dan historis.
Friman, "Presidio Modelo prison". 2005. CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=2410607
Penulis:
Kategori:
Selama ini konsep panoptikon lebih banyak dikaitkan dengan surveillance dari suatu aparatus kekuasaan yang besar untuk mengawasi satuan-satuan yang lebih kecil di dalam sebuah struktur.
Apoohcalypse Now (2002) by Artemio. Video still.
Penulis:
Kategori:
Di sebuah negeri yang dipaksa meneken perjanjian untuk menukar ekspor tekstil dengan impor film Hollywood, DVD bajakan punya peran kebudayaan yang vital dalam memperluas wawasan dan selera.
Learning to Queue Up to The Ants (1996) by Krisna Murti. Courtesy of @rsipIVAA
Penulis:
Kategori:
Para perupa kontemporer yang muncul pada awal dekade 90-an di Indonesia dan beroleh kesempatan dini tampil pada forum-forum seni rupa di lingkup internasional —sebutlah sebagai "dekade internasional"— mulai memanfaatkan perangkat video untuk melahirkan suatu elemen atau sistem visual-naratif yang pe
M. G. Durham & D. M. Kellner (eds.), Media and Cultural Studies: KeyWorks, (Blackwell Publishing Ltd., 2006), p. 165
Kategori:
Seberapa jauh manusia sadar telah hidup dalam realitas virtual? Ibarat kata budaya alas kaki telah membuat telah membuat telapak kaki lupa bagaimana rasanya tanah, begitulah kita mengandaikan diri berada dalam realitas melalui media massa.